Postingan

Hujan Pagi Ini

Awan mengurung air malam tadi Memutuskan menjatuhkannya pagi ini Ah, tidak ada kicauan burung! Mereka memilih menghangatkan tubuh di sarang kumpulan daun kering Aku meringkuk di tempat tidur Memutuskan menarik selimut sampai ujung leherku Tidak ada matahari lagi, ujarku ingin terlelap Kemarin pagi aku mencuci dan menjemur pakaianku Kurelakan basah karena hujan pagi ini Kadang aku merutuk kenapa tempatku menjemur pakaian tidak dinaungi kanopi Sia-sia sudah pewangi yang kucampurkan dalam rendaman terakhir pakaianku Belinya kan pakai uang? Tapi diluruhkan oleh si hujan pagi

Tentang hati : Setiap orang berhak memilih

Aku menulis ini di sebuah bangku di depan altar gereja katolik di Jakarta. Tidak boleh bermain hp di gereja. Iya, aku tau aturan itu. Tapi aku membuat pengecualian untuk diriku sendiri karena sedang tidak ada ibadah di tempat ini. Aku menunggu rombongan pengantin yang akan melaksanakan penerimaan sakramen perkawinan. Sekitar tiga puluh menit lagi. Entah kenapa, beberapa tahun belakangan ini aku sulit menulis cerita dari sudut pandang orang ketiga. Kali ini aku ingin menulis cerita yang alurnya sedang hilir mudik dipikiranku. Jadi kutuangkan saja dari sudut pandang orang pertama. Aku. Setiap orang berhak memilih. Untungnya aku hidup di negara yang memberikan keleluasaan pada setiap individu untuk bebas memilih. Beberapa waktu lalu aku dekat dengan seorang pria. Sudah lama kukenal, dan aku sudah menyukainya sejak lama. Hanya saja sejak kami berkenalan, dia sudah punya pacar. Wah, tembok pembatas pada perasaanku tentu saja kupasang tinggi dan kuat. Tiga tahun setelah kami berkenal...

Pemikiran Siang Ini

Beberapa orang memutuskan untuk menjatuhkan hati pada orang yang tidak melakukan hal yang sama. Tidak bersambut, bahasa sederhananya begitu. Mari kucontohkan, diriku. Beberapa orang memutuskan menjatuhkan hati padaku, dan aku tidak melakukan hal yang sama. Tetapi keberanian mereka mengungkapkannya menjadi sesuatu yang luar biasa. Tidak semua orang bisa melakukan hal tersebut. Beberapa menyembunyikan perasaan mereka entah sampai kapan. Beberapa langsung mengambil kesimpulan bahwa tidak ada jalan baginya untuk memiliki hatiku. Tapi yang sedang kubicarakan adalah mereka yang memutuskan untuk mengatakan langsung padaku. Yang kemudian kutolak, dengan beragam alasan. Tadi sesuatu terlintas di kepalaku. Rasanya akan sangat bahagia sekali ketika mereka yang tidak bisa kubalas perasaannya mendapatkan pelabuhan terakhir. Rasanya manis sekali melihat mereka tidak menghentikan pencarian hingga akhirnya menemukan perhentian untuk benar-benar akhirnya tidak berpindah. Perhentian yang menyam...

Semua akan indah pada waktuNya

Setiap keluarga memiliki rahasia, begitu kata sebuah film yang viral mengawali tahun ini. Kata penulis, setiap keluarga memiliki masalah. Ayah adalah tipe penyabar yang selalu menggunakan sebuah kalimat untuk menenangkan ibu dari masalah yang mereka hadapi. "Semua akan indah pada waktuNya" Jurus dengan kalimat itu memang berhasil untuk beberapa kali. Tapi kembali ke kata-kata tadi, masalah membuat kalimat penenang itu tidak ampuh lagi. Rasanya manusiawi. Ibu hanya seorang perempuan yang butuh kepastian. Bukan pengharapan tanpa kejelasan. Beliau pernah marah saat kalimat Semua akan indah pada waktuNya masih saja digunakan ayah menjawab masalah yang sedang mereka alami. Lalu waktu bergulir. Perlahan masalah selesai, diganti dengan berkat yang layak disyukuri. Tapi masalah lain datang. Tentu saja. Rasanya masalah dan berkat akan selalu datang silih berganti atau datang bersama selagi manusia hidup. Dan suatu ketika, ayah, ibu dan anaknya duduk bersama di meja m...

Kakak : Aku menyayangimu

Aku tidak tau apakah kau melakukan hal yang sama denganku. Mencoba mempelajari kepribadianmu, tingkah lakumu, bagaimana kau bersikap akan sesuatu. Aku melakukannya untukmu. Entah kau tau atau tidak. Kenapa aku melakukannya? Karena aku menyayangimu. Alasan sederhana. Aku tidak pernah mengatakan hal itu secara eksplisit padamu. Rasanya aneh. Tapi aku melakukan banyak hal untuk membuktikannya. Aku memeluk dan menciummu disaat yang tidak terprediksi. Sangat jarang kau tolak. Aku hampir tak pernah menolakmu jika kau mengajakku ke suatu tempat, karena memang hal tersebut jarang terjadi. Aku tau kau juga menyayangiku dengan cara yang lain. Kau peduli padaku, dengan caramu, aku tau. Contohnya saat aku terlambat bangun dan hampir ketinggalan pesawat. Kau ikut panik dan membantuku. Kau membantuku memilihkan baju apa yang harus kugunakan ke pesta pernikahan temanku. Kau mengajariku bagaimana cara berdandan. Kau yang menyetrika pakaianku saat aku mengambil peran mencuci semua baju kita...

Sebuah ucapan

Akhir Agustus lalu aku ingat dia berulang tahun Tidak kuucapkan padanya Tapi kuucapkan dalam hatiku saja Aku membuka percakapan kami di salah satu media sosial Oh, tahun lalu aku masih mengucapkannya Seperti biasa, dia membalasnya sehari setelah aku mengucapkan Ucapan "terima kasih" Natal tahun ini, aku juga tidak mengucapkannya, tahun lalu juga tidak Bukan tidak ingat Rasanya sudah enggan, sudah tidak layak saja Tapi selang sehari setelah natal Sebuah pesan masuk ke ponselku, "mamak nanya kabarmu. Sehatnya kau? Uda kubilang sih sehat" Aku terhenyak beberapa waktu. Akhirnya kubalas menyatakan sehat dan menyampaikan selamat natalku Kubuka kembali percakapan kami Ya, Terakhir, 26 agustus 2018 Inong surbakti, masih nama yang sama Tidak kuganti

The Rain - Ujung Pertemuan

...  Jika inilah akhir cerita kita Tak perlu khawatir kan aku Bila kau bahagia Aku pun bahagia Judul lagu ini beberapa kali muncul di halaman muka youtube ku. Tidak pernah kudengarkan entah karena apa. Video lagu ini baru saja diunggah tanggal enam november lalu. Lalu sore ini kudengarkan sambil tetap mengerjakan pekerjaan kantorku. Tapi beberapa lirik membuatku berhenti bekerja dan mendengar dengan seksama liriknya. Bagus sekali. The Rain tidak pernah mengecewakan. Selalu langsung menggores luka hati lama. Entah bagaimana mereka melakukannya. Kalimat yang sejak dulu tidak kumengerti ada dilirik lagu mereka. Bila kau bahagia.  Aku pun bahagia Bagaimana bahagia jika subjek penghasil kebahagiaan itu kini bahagia bersama yang lain? Lalu aku merasakannya. Belajar merela dan menerima hingga sampai tahta tertinggi, aku bahagia dengan kebahagiaan dia yang dulu pernah singgah dan memupuk harapan besar namun kini sudah bersama yang lain. Saat berpisah dulu, hal ...