Stasi St.Stanislaus Kostka Kranggan

Kemarin,
Saat minggu prapaskah terakhir tahun ini, 13 Maret 2016
Paduan suaraku dari gereja katolik St.Yohanes Penginjil blok B, St.John Choir, berkesempatan memberikan pelayanan koor ke sebuah gereja katolik di daerah Kranggan, Bekasi
Gereja katolik St.Stanislaus Kostka

Misa dimulai pukul 08.00 WIB dan kami berangkat dari gereja paroki di blok B pukul 06.30 WIB. Gereja St.Stanislaus Kostka tersebut adalah salah satu gereja stasi. Berhubung aku adalah anak rantau dan tidak tau banyak tentang stasi-stasi di daerah Jakarta dan sekitarnya, aku tidak tahu persis letak gereja St.Stanislaus Kostka ini.
Jadi aku mengikut saja. Kalau dari Jl.Melawai, dibutuhkan waktu sekitar 40-50 menit menuju ke gereja St.Stanislaus Kostka (tentu saja lewat tol)

Setelah mendengar sedikit cerita dari beberapa anggota paduan suaraku, ternyata gereja ini beberapa kali di kepung dan dihalangi proses pembangunannya oleh FUI (Forum Umat Islam) padahal gereja sudah memiliki IMB (Izin Mendirikan Bangunan)
Aku tidak tau persis karena apa, tapi kalau teman-teman penasaran boleh baca artikel ini atau search sendiri di google. Dan ternyata kejadian itu sudah dimulai sejak 2014 yang lalu.

Setelah sampai dan melakukan pemanasan sebentar, kami mulai mengikuti misa.
Ketika misa di mulai, dan sepanjang ibadah, ada sedikit kejanggalan yang terjadi. Dan kejanggalan itu sangat mengganggu proses jalannya misa.
Selama misa berlangsung, ada musik dangdut yang dipasang dengan suara yang sangat kuat sekali. Suara musik itu bahkan bisa mengimbangi suara microphone yang digunakan romo untuk membacakan injil. Bayangkan saja ! Bagian konsekrasi yang harusnya dijalani secara khusyuk juga menjadi terganggu dengan suara musik tersebut.

Setelah misa selesai, salah seorang anggota paduan suaraku mengatakan, "begitulah yang terjadi setiap Minggu di tempat ini. Orang-orang yang tidak setuju adanya gereja ini lah yang melakukan hal itu, selalu."
Aku berkata dalam hati, bagaimana bisa semua umat bisa menerima khotbah romo dengan baik? bagaimana bisa semua umat khusyuk saat konsekrasi berlangsung? dan itu sudah terjadi mulai dari 2014 sampai sekarang???

Hari itu aku mendapat pelajaran baru lagi.
Ternyata masih ada, bahkan banyak, teman-teman katolik di luar sana, bahkan di sekitarku yang belum bisa melaksanakan ibadah dengan tentram.
Andai saja saling menghargai dan menghormati tertanam di hati setiap orang, pasti kedamaian juga akan tercipta dengan baik bukan?

Dan ketika malam hari aku bercerita dengan bapakku,
Beliau mengatakan, "ya memang begitulah nak. Seperti kata pepatah, makin tinggi pohon, makin kuat/kencang juga angin yang menghadangnya. Kita harus selalu mendoakan saudara-saudara kita yang belum bisa merasakan ketentraman seperti yang kita lakukan saat ibadah"

Haah ...
Salut pada semua umat disana. Yang tetap tekun dan bersyukur dalam misa setiap minggu di gereja tersebut.
Fyi, mereka sangat senang sekali akan kedatangan kami. Beberapa umat bahkan datang dan menyalami kami mengucapkan terima kasih.
Pengurus gereja bahkan menyediakan beberapa jenis kue untuk kami santap sebagai ungkapan terima kasih
Ini kamiiiii :D



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musim Kehilangan