Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Berteman dengan Mantan? (draft 19 agustus 2020 - published)

Selama ini aku selalu memegang teguh pernyataan "mantan masih bisa dijadikan teman". Karena beberapa mantan pacarku memang bisa kujadikan teman. Lalu aku jatuh hati pada seseorang. Seseorang yang memperjuangkanku. Seseorang yang dilarang mendekatiku karena aku sudah punya pacar waktu itu. Lalu setelah aku putus dari pacarku itu, tidak ada lagi larangan untuknya mendekatiku. Dia yang pertama kali jatuh hati padaku. Lalu dia berhasil membuatku jatuh hati padanya. Kami menjalani cerita lebih dari empat tahun lamanya. Kau bisa bayangkan apa saja yang sudah kami lewati selama empat tahun? Ya, aku sempat berpikir dia menjadi pelabuhan terakhirku. Aku memintanya pada Tuhan. Namun takdir berkata lain. Aku hanya harus menghabiskan empat tahun untuk menikmati hidup dengannya karena setelah itu kami berpisah. Apakah aku patah hati? Tentu saja! Aku tak tau bagaimana dengannya. Kulihat pria memang lebih mudah menyembunyikan perkara hati. Setelah melewati siklus patah hati, aku menerima ba...
Kemarin aku kecelakaan. Kecelakaan tunggal, jatuh dari motor. Kesalahanku sendiri, aku memegang ponsel di tangan kiri untuk melihat dibelokan mana aku harus belok. Maklum, aku belum pernah ke lokasi tujuanku. Aku melihat polisi tidur di depanku dan tidak bisa menghindar. Sepersekian detik aku sadar aku akan jatuh, tapi aku belum tau harus melakukan apa. Stir motor bergoyang kanan kiri, lalu aku jatuh ditimpa motorku sendiri. "Tolong", gumamku yang entah terdengar atau tidak oleh orang lain. Yang pasti ada empat pria dan satu ibu yang membantuku. Aku mendudukkan diriku di pinggir jalan, sementara para pria itu menaikkan motorku dan memarkirkannya di pinggir jalan. Pria lain mengamankan tas dan barang-barangku yang jatuh. Si ibu langsung menghampiriku, mengurut kakiku sambil mengatakan, "Sini hp nya", pada si pria yang membereskan barangku. Mungkin si ibu takut ponsel itu dimaling. Tentu tak kupikirkan sampai kesitu. Helmku sudah terbuka entah bagaimana caranya. Yang ...
Katakan ini masaku. Masaku menikmati cinta tanpa takut berkorban. Oh tentu saja kubagi cintaku, masih sebagian. Tapi dia berbagi cinta yang besar sekali untukku, entah sudah sepenuhnya atau masih sebagian, aku tidak tau. Yang kutau, saat aku mau berbagi cintaku, aku menyisihkan 'siap' jika harus gagal lagi. Tidak lagi kucintai dengan brutal, ternyata tak ada baiknya kata 'brutal' itu. Tapi kali ini, rasanya jauh lebih mudah, jauh lebih enteng, jauh lebih dibawa daripada membawa. Bagaimana membahasakannya? Oh, begini, rasanya sekarang usaha yang kulakukan dibalas usaha yang jauh lebih keras. Rasanya menyenangkan sekali. Rasanya menyenangkan sekali tak lagi perlu menata bahasa lebih hati-hati agar tak menyakitinya. Usaha itu menguras tenaga sekali. Jika dari tulisan ini rasanya aku egois, iya, aku egois. Tapi aku juga mau menikmati keegoisan ini. Mau menikmati aku dicintai tanpa takut disalahkan. Mau menikmati disayang tanpa kuminta. Mau menikmati bisa bertanya dan memint...
Hahahaha... Masih seputar rindu sama bapak, boleh ya? Barusan liat ig story teman yang lagi jalan-jalan ke luar negeri. Terus jadi teringat sama kejadian tiga tahun lalu. Waktu keliling Europe waktu itu, ada satu waktu dimana aku video call bapak, dijalanan Salzburg menuju Hallstatt, Austria, waktu itu. Aku benar-benar jatuh cinta dengan negara itu. Sepi dan cantik sekali. Aku video call bapak dan pamer padanya, "Bagus kali pak negaranya", kataku. Tahun berikutnya setelah bapak meninggal, aku ke China dan Jepang. Momen "coba kalo ada bapak" terlintas. "Ah, coba kalo bapak masih ada, dia pasti akan senang sekali ku video call dan kutunjukkan betapa megahnya Tembok China, gimana anaknya hebat banget naik cableway dan toboggan, tawanya pasti renyah, senyum bangganya pasti manis sekali", gumamku berulang-ulang. Tak ada lagi lelaki dewasa yang bisa kuajak berdebat dan selalu membiarkan aku menang walau aku belum tentu benar. Hanya akan menanggapiku dengan senyu...
Setelah menerima hosti pada hari Minggu kemarin, aku berdoa lebih lama dari biasanya. Tidak kurencanakan. Aku mendoakan banyak hal. Lalu aku sedikit terhenyak dengan doaku sendiri. Aku menangis. Aku menangis mengingat kini ada seseorang yang entah bagaimana dikirimkan Tuhan menemani hari-hariku. Berbagi cerita dan cinta yang entah bagaimana bisa ada. Aku menangis mengingat bagaimana beberapa kali aku mengecewakannya bahkan diawal cerita kami bersama. Aku menangis mengingat bagaimana dia mau dan bisa bertahan, padahal mungkin aku bukan satu-satunya yang menjadi pilihannya. Aku tidak tau bagaimana itu bisa terjadi. Aku bahkan tidak tau mengapa kami pada akhirnya punya cerita bersama seperti sekarang. Aku pasti punya harapan besar tentang ini. Lalu aku menyadari bahwa Dia punya rencana atasku dan dia. Sebaik-baiknya rencana manusia pun akan mutlak takluk pada rencana Tuhan Sang Maha Membolak-balikkan. Inginku hanya satu, dikuatkanNya untuk setiap hal yang sudah ditakdirkannya padaku. Pun ...
Aku juga tidak mau lahir menjadi seseorang yang terlalu perasa. Setiap memori yang entah baik atau tidak kadang muncul tidak terduga. Seperti saat ini, memori tentang bapak yang sudah tidak sadarkan diri di ruang ICU, dua hari sebelum meninggal, hari Minggu, aku membacakan bacaan injil hari itu. Setelah itu, aku berbisik ke telinga bapak, "Pak, kalau capek, gapapa kok udahan. Aku, mama dan adek-adek bakal baik-baik aja. Tapi kalau masih mau berjuang, yok pak, pasti bisa, kami juga pasti bisa ngusahain dari sini." Lalu bapak mengeluarkan airmata. Tangisku pecah dalam diam. Sebisa mungkin aku tak mau dia tau aku menangis. Tau kan rasanya ingin menangis kencang sekali tapi harus ditahan? Iya, sakit sekali. Tapi suaraku bergetar mengatakan aku sayang padanya, aku tau kalau dia tau aku menangis. Aku pamit sebentar kembali ke Jakarta. Kubilang aku akan datang lagi menjenguknya. Tapi dua hari kemudian Bapak memutuskan menyerah. Oh, atau mungkin memang waktunya sudah tiba. Bayangkan ...
Aku sedang berpacu dengan pikiranku sendiri. Mengurutkan hal penting mana yang harus kupikirkan lebih dulu. Apakah tentang kalung berlian yang muncul diiklan instagramku atau ketidakrelaanku meninggalkan pekerjaanku sekarang. Apakah tentang pria baik yang sedang muncul dihidupku ini, tentang dia akan bertahan atau pergi, tentang dia adalah jodoh atau pembelajaran atau tentang masak apa aku besok pagi. Atau tentang lagu konser yang tadi dilatih atau model cincin cantik buatan titian fyne. Iya, jika aku sendiri saja sudah kalut dengan pikiranku yang tak teratur Bagaimana aku berbagi dan menceritakan pada orang lain? Aneh sekali Setiap aku menutup mata hendak mengurutkannya satu-satu, aku berhenti karena rasanya rangkaian huruf pembentuk kata itu berkejaran dalam kepalaku. Tapi tidak memikirkan apa pun membuatku mengantuk. Padahal aku sedang belajar tentang sepi Tentang aku sendiri yang terasa bising Tentang diam yang merasuk raga Tentang tak bersuara agar aku mengerti isi kepala Tidak be...
Oh akhirnya aku mengerti bahwa aku harus mengurus hatiku sendiri. Ternyata benar, perkara hatiku adalah tanggung jawabku sendiri. Setelah kemarin semua kegundahanku dan kekecewaanku kubagikan dengan beberapa teman, aku merasa puas dan didukung. Tentu saja, mereka adalah temanku. Aku selalu bilang pada mereka bahwa dibalik semua penyebab perpisahan kami, dia tetap pribadi yang sangat baik. Kami pernah mengukir banyak cerita baik, manis nan hangat. Dahulu, sesekali aku juga bercerita tentang kebaikannya pada teman-temanku. Bagaimana aku bangga pada pencapaiannya dan perjuangannya. Lalu setelah semua berubah dan aku memutuskan berpisah, terkesan mereka jadi membencinya. Lalu sekarang dalam proses pemulihan hatiku, aku mengorek kenangan-kenangan baik yang dulu membuat aku tersenyum dan merasa dibahagiakan olehnya. Ternyata aku pernah ada dimasa itu. Masa dimana aku dimanjakan dan didengarkan. Masa dimana kami merencanakan masa depan. Masa dimana kami berbagi keluh kesah. Masa dimana aku me...
Aku pernah menolak pelukan darimu saat aku menangis keras, entah karena apa waktu itu, aku lupa. Pernah ketika kau kutolak, kau tidak melanjutkan usahamu untuk memelukku. Pernah juga ketika kutolak, kau memaksa untuk memelukku. Seingatku aku melawan bukan karena aku tidak butuh pelukan. Tapi karena aku telalu malu menunjukkan aku lemah dan butuh sandaran. Aku menolak karena aku merasa aku bisa melewatinya tanpa siapa pun. Aku menolak karena aku tidak terbiasa ditolong disaat sedih. Aku bingung harus bersikap bagaimana dikondisi itu. Sekarang, aku melepaskan "kita" karena aku sendiri. Aku merasa "kita" sudah sampai garis akhir. Garis akhir yang memaksa kita untuk melangkah dengan jalur yang berbeda. Aku dengan keinginanku untuk bebas, kau dengan inginmu bertahan namun tak kupedulikan. Kemarin kau terlintas dalam benakku. Aku selalu memikirkan ini ketika aku berpisah dengan mereka yang ada di masa laluku. Tapi aku menyadari aku tidak memikirkan ini setelah berpisah da...
Sepertinya sampah-sampah dalam pikiran sudah dibuang ke tulisan-tulisan disini. Terutama sampah overthinking yang kebanyakan ga kejadian sama sekali. Sekarang malah lebih tenang pas uda ambil satu keputusan. Yang awalnya juga mikir keputusan itu mungkin bukan yang terbaik, toh sementara ini, setelah dijalani, rasanya itu yang terbaik. Rasa was-was ada abnget. Apalagi harus mengikuti pikiran orang nekat yang ga benar-benar bersih pikirannya. Semoga ga ada hal buruk yang terjadi. Karena rasanya sudah lelah harus menghadapi drama tak kunjung usai ini
Lebih dari 200 kali panggilan tak terjawab ke ponselku. Tentu aku melihat namamu di layar ponselku. Kubiarkan begitu saja. Tidak, aku tidak lagi salut dengan usahamu. Kau mengganggu. Sangat membuat tidak nyaman. Aku bingung. Aku harus apa? Kenapa aku harus bertanggungjawab atas perasaanmu yang tak lagi bisa kuterima itu? Kenapa seakan-akan aku tidak boleh melanjutkan hidupku yang isinya kini bukan kau? Aku bingung Bukankah jika kau sayang, kau juga mau aku bahagia? Nyatanya kini bahagiaku bukan kau Kau tidak lagi menjadi yang kuinginkan ada di dalam perjalananku Toh, semua perjalanan akan memiliki ujung Usai sudah tentang kita Tidak lagi ada yang bisa diusahakan Kau bilang kau berusaha? Kau berjuang? Jika kuminta berhenti, apakah kau mau? Tidak? Kau ingin melanjutkan perjuanganmu? Silakan Tapi kau tidak bisa menahanku untuk tinggal Tidak! Aku sudah tidak mau lagi Aku bukan wanitamu lagi Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan hidupku tanpamu Mungkin memang akan berat untukmu Tapi itu pr...

Terimakasih, tuan.

Terimakasih telah memilih perempuan ini, tuan. Terimakasih bertahan untuk perempuan ini, tuan. Terimakasih menerima riuh redam isi kepala ini, tuan. Terimakasih tidak pergi karena masa lalu perempuan ini, tuan. Terimakasih masih mendengar larangan dari perempuan ini, tuan. Terimakasih tidak balas menaikkan nada suara ketika emosi menjajah, tuan. Terimakasih telah banyak bercerita tentang mimpi-mimpi, tuan. Terimakasih mengusahakan aku dan kita, tuan. Terimakasih tidak segera mematikan asa yang kubagi, tuan. Terimakasih membuat segalanya punya tujuan, tuan. Terimakasih... Terimakasih telah mencintai perempuan yang rumit ini, tuan.

kata-kata adalah hal paling menyusahkan diriku sendiri.

Aku hampir lupa, ternyata menulis seasyik ini. Membuang isi kepala yang biasanya bertengkar didalam tanpa akhir. Tentang yang akhir-akhir ini terjadi : Aku tentu tau, bahwa kata-kata adalah hal paling menyusahkan diriku sendiri. Begini, apa yang orang sampaikan entah itu serius atau tidak kadang kuserap sendiri tanpa sempat kuolah. Jadi beberapa hal menjadi menyebalkan saat kata-kata yang terserap itu adalah janji yang ternyata mungkin beberapa orang menganggap itu hal remeh yang berlalu begitu saja. Seperti saat seseorang pernah bercanda denganku, "Mau kesini kapan? Kubeliin tiket pulang ya?" Ternyata, mungkin, itu hanya ucapan selewat saja. Atau, "Kamu suka yang mana? Nanti aku beliin ini aja ya" Lalu pembicaraan itu menguap, menghilang begitu saja. Oh, aku sudah terbiasa dengan skenario itu. Dijanjikan banyak hal lalu tak menjadi kenyataan. Aku sudah terbiasa dengan begitu banyak kata-kata dan janji tak bermakna. Tapi kadang pikiranku sendiri bertanya, "Ken...

Tentang Probabilitas

Probabilitas adalah ukuran kemungkinan atau peluang terjadinya suatu peristiwa atau kejadian. - Google, 2025 Mari bicara dari sisiku dulu. Kita tinggal di Jakarta. Aku sudah punya kerja, orangtuamu setuju kamu ke Jakarta, aku senang, kamu ga resign dulu dari tempat lama, cari kerja di Jakarta dari sana. Aku sudah punya kerja, orangtuamu setuju kamu ke Jakarta, aku lebih senang lagi, kamu resign dari tempat lama, bareng ke Jakarta sama aku dan cari kerja di Jakarta setelah disini. Aku sudah punya kerja, orangtuamu ga setuju kamu ke Jakarta, tapi kamu yakinin mereka dengan kamu ga resign dulu dari tempat lama, sambil cari kerja di Jakarta dari sana, dan aku pasti ngerasa ga enak ke keluargamu. Aku sudah punya kerja, orangtuamu ga setuju kamu ke Jakarta, kamu tetap resign dari tempat lama, bareng ke Jakarta sama aku dan cari kerja di Jakarta setelah disini,  dan aku pasti ngerasa bersalah ke keluargamu. Aku tau. Ada tantangan sendiri untukmu nantinya. Walaupun kau sudah pernah ke...
"Kamu pengin honeymoon kemana?", satu dari beberapa list pertanyaan yang muncul tiba-tiba. Aku diam, mencoba berpikir, "Aku ingin kemana?" Entah". Aneh sekali. Hanya jawaban "entah" yang bisa muncul setelah banyaknya tempat kujelajah dibeberapa sudut dunia ini. Aku berpikir lagi, "Haah? Honeymoon ? Akan sampai pada fase itu ya?" Sekarang pertanyaannya malah itu. Lebih ke tidak percaya ada level diatas menunggu ketidakpastian yang bertahun itu hingga aku terbiasa. Aku tidak tau bahwa ternyata level yang berbeda dari ketidakpastian itu adalah hal pasti yang harus didiskusikan bersama. Salah satunya adalah honeymoon dimana setelah menikah. "Bolehkah aku menjawabnya nanti? Sepertinya aku butuh waktu memikirkan itu", kataku pelan. "Tentu saja", katanya tidak khawatir dengan kalutnya pikiranku. Lalu dilanjut dengan pernyataan tentang keinginannya dimana untuk honeymoon . Aku sudah tau jawabannya. Jadi kubiarkan dia bercerita ...
Aku ga nyangka panggilan telepon dari namamu jadi hal paling menakutkan Aku ga nyangka kau jadi orang asing setelah banyak hal baik yang pernah terjadi diantara kita Aku ga nyangka aku harus merasa lelah bahkan hanya karena aku memikirkan tentangmu Harusnya semua ini tak perlu terjadi Harusnya kita, pun tak jadi kita, tetap bisa menjadi teman baik Tapi ternyata aku tidak baik-baik saja Bayangan tentang harus berbicara denganmu saja membuat aku mual Sungguh! Rasanya aku stress untuk hal yang tidak perlu Rasanya aku kecewa untuk hal yang entah kenapa harus berakhir begini Bolehkah kau mengerti arti kata cukup? Semua pertanyaan dalam kepalamu, biar saja lebur oleh waktu Aku pun tentu butuh waktu, mungkin lebih panjang dari patah hati terburukku waktu itu Tapi hidupku harus terus berjalan, kan? Dan kau tidak lagi ada didaftar masa depanku Aku tidak mau lagi

Mari bicara tentang grieving

Mari bicara tentang grieving Kemarin aku bertemu dengan seorang teman. Beberapa kali dia sudah mengingatkan aku dengan proses ini. Hal yang menurutku berjalan mengikuti arus hidup saja. Lalu aku berkata, "Iya sih, kadang tuh masih kepikiran. Ih iya ya, kok bisa ya? Kok tega ya? Setelah semua yang terjadi selama ini loh" Lalu kulanjutkan, "Tapi ya emang takdirnya begini kali ya" Dia menjawab, "Nah, ini yang kumaksud dengan grieving . Itu tuh bukan proses dimana kamu mau menerima semua kesalahan dia dan bahkan mungkin mau kembali memulai hubungan baik lagi. Bukan. Itu tuh proses dimana kamu bisa berdamai dengan dirimu sendiri. Proses dimana kamu ga lagi marah, kecewa, tersinggung, sakit hati. Proses dimana kamu ga lagi menyesali apa yang sudah terjadi. Pasti butuh waktu. Makanya itu, kasih dirimu ruang untuk menerima dan memproses hal ini. Ga harus cepat-cepat kok. Takutnya, kalau kamu ga selesai dengan grieving -mu, itu akan ber- impact ke hal lain setelahnya. ...
Sepanjang hari ini bisaku hanya tersenyum, sesekali tertawa kecil. Bagaimana bisa Tuhan menjawab doaku dengan cara seperti ini? Bertahun aku berdoa dengan isi yang sama. Doa yang kadang aku bahkan bingung harus mengimaninya seperti apa. Doa yang kadang kuucapkan tapi kosong yang kurasakan. Kadang doanya sangat khusyuk, terkesan memerintah malah. Tapi semakin lama isi doa yang sama itu rasanya lebih ke berserah. Langkah besar untuk keputusan yang kuambil membuat aku bingung sendiri, takut, sedih, rasanya seperti orang jahat. Berulang kali memberi afirmasi positif untuk diri sendiri bahwa mungkin ini adalah waktunya, sudah saatnya. Semua akan baik-baik saja. Aku merasa aku pasti bisa. Sesekali aku menangis, menghentikan perkelahian antara perasaan dan pikiranku, lelah sekali. Lalu hari ini seorang teman mengirimkan pesan, "Kak, boleh aku call ?" "Boleh", kataku. Niatku adalah bercerita padanya dan mendengar cerita dari versinya. Satu jam empat puluh enam menit kami be...
Bagaimana bisa kau menyuruhku mengingat kenangan kita selama ini? Bagaimana bisa kau menyuruhku mengingat sudah sejauh apa kita? Bagaimana bisa? Sementara setelah itu kau mengunggah foto wanita lain dengan tanda hati Saat kulihat, sebentar, aku belum selesai memproses semuanya. Terakhir kali hal ini terjadi, aku sudah menyiapkan semua kemungkinan dan bagaimana aku menanggapinya. Tapi kali ini terlalu cepat, aku belum mempersiapkan diriku. Lalu, saat aku melihat foto yang kau unggah yang dikirimkan temanku padaku, aku tertawa. Disaat yang bersamaan perasaan aneh menyergap. Bukan, bukan perasaan cemburu, sedih, sakit hati. Lebih ke ... Lega, kosong. Lalu aku tersadar, oh ya, itu bagian dari doaku pada Tuhan untukmu. Aku sampai speechless bagaimana Tuhan maha membolak-balikkan keadaan dan perasaan dalam waktu yang sangat singkat.  Bagaimana aku yang menyiapkan semua skenario yang ternyata diluar dari script dunia yang kusiapkan dipatahkan Tuhan dengan caraNya. Bagaimana DIA menunjukk...
Bukankah kali ini aku juga penjahatnya? Sampai aku memutuskan tidak apa menjadi penjahat. Semakin aku bertahan, mengingat, melihat, ternyata aku semenyakitkan itu. Bahkan diriku sendiri tidak tau aku sedang disakiti sebegitunya. Lalu tetap saja aku merasa menjadi penjahat. Aku penjahat yang meninggalkan. Aku terkejut, kemarin aku memaki sebegitu kuatnya hanya karena disuruh bertahan. Aku ternyata sudah semuak itu. Lagi-lagi aku tidak sadar. Rasanya melegakan sekali sudah pergi. Walau mungkin cap penjahat akan menempel selamanya. Tadi kucoba mengingat, tidak, tidak, aku tidak bisa. Mengingat saja membuat aku berkaca-kaca. Aku tidak mau lagi. Sungguh!
Nanti di lain hari Nanti di lain bumi Saat sudah rela hati ini Kuceritakan jalan-jalan yang kutempuh sampai ku bisa relakanmu pergi   Penggalan lagu Bernadya berjudul "Sialnya, hidup harus tetap berjalan" sedang mode on repeat di-playlist ku. Ada sedih yang tak bisa kutangisi lagi, entah bagaimana. Aku saja kadang bingung bagaimana tubuh dan emosiku mengontrol semua rasa kehilangan yang seharusnya menjadi duka tak terkubur. Beberapa hari lalu ayah sahabatku berpulang. Hanya dua hari dirawat karena penyakit jantung, lalu dinyatakan meninggal. Aku yang menjadi salah satu teman yang mendengar pertama berita itu linglung seketika. Aku harus apa? Aku harus bagaimana? Dia menangis, "Bapakku udah pergi", katanya. Aku memeluknya. Lalu bergantian beberapa teman memeluk dan memberi support. Aku diam. Apa kabar setelah meninggalkan dunia, pak? Bagaimana perjalananmu? Purgatorium itu ada tidak? Sudah bertemu Tuhan? Banyak pertanyaan setelah Bapak tidak ada. Setelah lebih dari s...