Baru saja aku mau memulai lagi. Memupuk harapan-harapan kecil hingga besar dalam diriku pada orang lain. Aku bahkan hampir lupa bahwa manusia sumber kecewa. Hingga kecewa bukan kata yang kuselipkan dalam harapan-harapan itu. Lalu semua berjalan. Tentu dengan baik awalnya. Sering mengabari dengan "Aku berangkat ya" "Aku sudah sampai ya" "Aku kesana ya sama si A" "Aku uda sampe ya" "Kami disini bertiga" -lalu dikirimkan video tanpa kuminta. Awalnya begitu. Tentu saja temanku sudah memperingati, "Biasanya itu. Beberapa bulan pertama" Lalu, aku acuh karena terlalu senang diperlakukan begitu. Pelan-pelan perubahan mulai muncul. Mulai dari masalah yang seharusnya tidak besar berakhir tak diselesaikan juga sampai empat hari lebih. Sampai pada tidak mengabari kalau sudah sampai atau sedang bersama siapa. Mungkin setelah beberapa bulan hal itu tidak lagi menjadi penting. Sayangnya, kecewa itu muncul saat hatiku tidak siap. Kemarin-kema...
Postingan
Berteman dengan Mantan? (draft 19 agustus 2020 - published)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Selama ini aku selalu memegang teguh pernyataan "mantan masih bisa dijadikan teman". Karena beberapa mantan pacarku memang bisa kujadikan teman. Lalu aku jatuh hati pada seseorang. Seseorang yang memperjuangkanku. Seseorang yang dilarang mendekatiku karena aku sudah punya pacar waktu itu. Lalu setelah aku putus dari pacarku itu, tidak ada lagi larangan untuknya mendekatiku. Dia yang pertama kali jatuh hati padaku. Lalu dia berhasil membuatku jatuh hati padanya. Kami menjalani cerita lebih dari empat tahun lamanya. Kau bisa bayangkan apa saja yang sudah kami lewati selama empat tahun? Ya, aku sempat berpikir dia menjadi pelabuhan terakhirku. Aku memintanya pada Tuhan. Namun takdir berkata lain. Aku hanya harus menghabiskan empat tahun untuk menikmati hidup dengannya karena setelah itu kami berpisah. Apakah aku patah hati? Tentu saja! Aku tak tau bagaimana dengannya. Kulihat pria memang lebih mudah menyembunyikan perkara hati. Setelah melewati siklus patah hati, aku menerima ba...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kemarin aku kecelakaan. Kecelakaan tunggal, jatuh dari motor. Kesalahanku sendiri, aku memegang ponsel di tangan kiri untuk melihat dibelokan mana aku harus belok. Maklum, aku belum pernah ke lokasi tujuanku. Aku melihat polisi tidur di depanku dan tidak bisa menghindar. Sepersekian detik aku sadar aku akan jatuh, tapi aku belum tau harus melakukan apa. Stir motor bergoyang kanan kiri, lalu aku jatuh ditimpa motorku sendiri. "Tolong", gumamku yang entah terdengar atau tidak oleh orang lain. Yang pasti ada empat pria dan satu ibu yang membantuku. Aku mendudukkan diriku di pinggir jalan, sementara para pria itu menaikkan motorku dan memarkirkannya di pinggir jalan. Pria lain mengamankan tas dan barang-barangku yang jatuh. Si ibu langsung menghampiriku, mengurut kakiku sambil mengatakan, "Sini hp nya", pada si pria yang membereskan barangku. Mungkin si ibu takut ponsel itu dimaling. Tentu tak kupikirkan sampai kesitu. Helmku sudah terbuka entah bagaimana caranya. Yang ...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Katakan ini masaku. Masaku menikmati cinta tanpa takut berkorban. Oh tentu saja kubagi cintaku, masih sebagian. Tapi dia berbagi cinta yang besar sekali untukku, entah sudah sepenuhnya atau masih sebagian, aku tidak tau. Yang kutau, saat aku mau berbagi cintaku, aku menyisihkan 'siap' jika harus gagal lagi. Tidak lagi kucintai dengan brutal, ternyata tak ada baiknya kata 'brutal' itu. Tapi kali ini, rasanya jauh lebih mudah, jauh lebih enteng, jauh lebih dibawa daripada membawa. Bagaimana membahasakannya? Oh, begini, rasanya sekarang usaha yang kulakukan dibalas usaha yang jauh lebih keras. Rasanya menyenangkan sekali. Rasanya menyenangkan sekali tak lagi perlu menata bahasa lebih hati-hati agar tak menyakitinya. Usaha itu menguras tenaga sekali. Jika dari tulisan ini rasanya aku egois, iya, aku egois. Tapi aku juga mau menikmati keegoisan ini. Mau menikmati aku dicintai tanpa takut disalahkan. Mau menikmati disayang tanpa kuminta. Mau menikmati bisa bertanya dan memint...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Hahahaha... Masih seputar rindu sama bapak, boleh ya? Barusan liat ig story teman yang lagi jalan-jalan ke luar negeri. Terus jadi teringat sama kejadian tiga tahun lalu. Waktu keliling Europe waktu itu, ada satu waktu dimana aku video call bapak, dijalanan Salzburg menuju Hallstatt, Austria, waktu itu. Aku benar-benar jatuh cinta dengan negara itu. Sepi dan cantik sekali. Aku video call bapak dan pamer padanya, "Bagus kali pak negaranya", kataku. Tahun berikutnya setelah bapak meninggal, aku ke China dan Jepang. Momen "coba kalo ada bapak" terlintas. "Ah, coba kalo bapak masih ada, dia pasti akan senang sekali ku video call dan kutunjukkan betapa megahnya Tembok China, gimana anaknya hebat banget naik cableway dan toboggan, tawanya pasti renyah, senyum bangganya pasti manis sekali", gumamku berulang-ulang. Tak ada lagi lelaki dewasa yang bisa kuajak berdebat dan selalu membiarkan aku menang walau aku belum tentu benar. Hanya akan menanggapiku dengan senyu...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Setelah menerima hosti pada hari Minggu kemarin, aku berdoa lebih lama dari biasanya. Tidak kurencanakan. Aku mendoakan banyak hal. Lalu aku sedikit terhenyak dengan doaku sendiri. Aku menangis. Aku menangis mengingat kini ada seseorang yang entah bagaimana dikirimkan Tuhan menemani hari-hariku. Berbagi cerita dan cinta yang entah bagaimana bisa ada. Aku menangis mengingat bagaimana beberapa kali aku mengecewakannya bahkan diawal cerita kami bersama. Aku menangis mengingat bagaimana dia mau dan bisa bertahan, padahal mungkin aku bukan satu-satunya yang menjadi pilihannya. Aku tidak tau bagaimana itu bisa terjadi. Aku bahkan tidak tau mengapa kami pada akhirnya punya cerita bersama seperti sekarang. Aku pasti punya harapan besar tentang ini. Lalu aku menyadari bahwa Dia punya rencana atasku dan dia. Sebaik-baiknya rencana manusia pun akan mutlak takluk pada rencana Tuhan Sang Maha Membolak-balikkan. Inginku hanya satu, dikuatkanNya untuk setiap hal yang sudah ditakdirkannya padaku. Pun ...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Aku juga tidak mau lahir menjadi seseorang yang terlalu perasa. Setiap memori yang entah baik atau tidak kadang muncul tidak terduga. Seperti saat ini, memori tentang bapak yang sudah tidak sadarkan diri di ruang ICU, dua hari sebelum meninggal, hari Minggu, aku membacakan bacaan injil hari itu. Setelah itu, aku berbisik ke telinga bapak, "Pak, kalau capek, gapapa kok udahan. Aku, mama dan adek-adek bakal baik-baik aja. Tapi kalau masih mau berjuang, yok pak, pasti bisa, kami juga pasti bisa ngusahain dari sini." Lalu bapak mengeluarkan airmata. Tangisku pecah dalam diam. Sebisa mungkin aku tak mau dia tau aku menangis. Tau kan rasanya ingin menangis kencang sekali tapi harus ditahan? Iya, sakit sekali. Tapi suaraku bergetar mengatakan aku sayang padanya, aku tau kalau dia tau aku menangis. Aku pamit sebentar kembali ke Jakarta. Kubilang aku akan datang lagi menjenguknya. Tapi dua hari kemudian Bapak memutuskan menyerah. Oh, atau mungkin memang waktunya sudah tiba. Bayangkan ...