Baru saja aku mau memulai lagi. Memupuk harapan-harapan kecil hingga besar dalam diriku pada orang lain.
Aku bahkan hampir lupa bahwa manusia sumber kecewa. Hingga kecewa bukan kata yang kuselipkan dalam harapan-harapan itu.

Lalu semua berjalan. Tentu dengan baik awalnya. Sering mengabari dengan

"Aku berangkat ya"
"Aku sudah sampai ya"
"Aku kesana ya sama si A"
"Aku uda sampe ya"
"Kami disini bertiga" -lalu dikirimkan video

tanpa kuminta. Awalnya begitu.

Tentu saja temanku sudah memperingati, "Biasanya itu. Beberapa bulan pertama"
Lalu, aku acuh karena terlalu senang diperlakukan begitu.

Pelan-pelan perubahan mulai muncul. Mulai dari masalah yang seharusnya tidak besar berakhir tak diselesaikan juga sampai empat hari lebih.
Sampai pada tidak mengabari kalau sudah sampai atau sedang bersama siapa.

Mungkin setelah beberapa bulan hal itu tidak lagi menjadi penting.
Sayangnya, kecewa itu muncul saat hatiku tidak siap.

Kemarin-kemarin aku selalu menyiapkan ruang untuk kecewa agar tak perlu kupikirkan sampai menangis.
Lalu karena hatiku tidak siap, rasanya sedih ternyata. Bahkan aku menyesal kenapa memupuk harapan-harapan itu terlalu besar dan tinggi. Aku menyesal memberi hatiku pada semua perlakuan manis dan janji bahagia yang tentu secara manusiawi bisa saja berubah. Aku menyesal harus lagi mulai membangun tembok yang sudah kuruntuhkan kembali.

Ah, manusia. Harusnya tembok bebalku pada perasaan tetap saja menjulang tinggi kupertahankan. Agar pun jika dikecewakan, tak lagi harus menangis. Agar pun jika harapan-harapan itu pupus, tidak apa karena bukan apa-apa. Harusnya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berteman dengan Mantan? (draft 19 agustus 2020 - published)