Kemarin aku kecelakaan. Kecelakaan tunggal, jatuh dari motor. Kesalahanku sendiri, aku memegang ponsel di tangan kiri untuk melihat dibelokan mana aku harus belok. Maklum, aku belum pernah ke lokasi tujuanku. Aku melihat polisi tidur di depanku dan tidak bisa menghindar. Sepersekian detik aku sadar aku akan jatuh, tapi aku belum tau harus melakukan apa.
Stir motor bergoyang kanan kiri, lalu aku jatuh ditimpa motorku sendiri. "Tolong", gumamku yang entah terdengar atau tidak oleh orang lain. Yang pasti ada empat pria dan satu ibu yang membantuku. Aku mendudukkan diriku di pinggir jalan, sementara para pria itu menaikkan motorku dan memarkirkannya di pinggir jalan. Pria lain mengamankan tas dan barang-barangku yang jatuh. Si ibu langsung menghampiriku, mengurut kakiku sambil mengatakan, "Sini hp nya", pada si pria yang membereskan barangku. Mungkin si ibu takut ponsel itu dimaling. Tentu tak kupikirkan sampai kesitu.
Helmku sudah terbuka entah bagaimana caranya. Yang pasti aku merasa baik-baik saja. Perih di bagian kaki kananku. Oh, celanaku sampai sobek ternyata. Aku membuka celanaku bagian bawah, banyak luka dan goresan, si sumber perih.
Si ibu ternyata orang batak, boru Simanungkalit, dan ibu yang melahirkan bapaknya boru Silaban. Tentu saja mudah logat bicaranya kukenali. Dia tak henti-hentinya mengurut kakiku, "Aduh, sakitlah ini besok. Uda pernah anakku kek gini", begitu dia bercerita.
Satu hal yang cukup kusadari adalah tubuhku trauma. Ada gemetar kecil seluruh tubuh yang tak pernah kukenali sebelumnya. Otakku sempat berkata aku baik-baik saja, sakit di beberapa tempat tapi baik-baik saja. Oh tapi tubuhku sepertinya sedang berkelahi dengan otakku. Dia gemetar tanpa bisa kukontrol. Aku hanya duduk di pinggir jalan, menyesali kebodohan yang memang bisa kuperkirakan sebelumnya.
Dua puluh menit aku terduduk. Diberikan minuman oleh pria-pria tadi dan ibu-ibu yang baru keluar pengajian. Oh aku jatuh di dekat masjid ternyata. Untungnya jalanan itu tidak ramai, tidak banyak kendaraan berlalu-lalang disana. Para ibu itu menyuruhku beristirahat di masjid, supaya tidak kepanasan katanya. Memang terik sekali waktu itu padahal belum jam sepuluh pagi. Tapi aku terlalu lelah memproses banyak hal, kutolak dengan santun.
Si ibu batak menemaniku. Melewatkan beberapa angkutan umum yang sedang dia tunggu, memastikan aku baik-baik saja. Masih sungkan aku meminta maaf karena merepotkannya. Tentu rasa tidak enakku muncul. Sepertinya pun aku ditinggal setelah motor itu disingkirkan dari tubuhku rasanya tidak apa-apa. Tapi, lagi, aku lelah memproses banyak hal sehingga kuterima saja dia membantuku waktu itu.
Setelah setengah jam, kulanjutkan perjalananku, hanya dua kilometer lagi dari lokasi jatuhku. Tentu saja si ibu sudah menawarkan agar aku memanggil temanku untuk membantu. Aku? Tentu tidak melakukannya, merepotkan orang saja, toh aku bisa. Akhirnya si ibu membiarkan aku pergi setelah dengan yakin menyatakan aku baik-baik saja.
"Terimakasih bou, Tuhan memberkati", kataku sambil membawa motorku pergi.
Aku sampai di tujuan. Kubuka jaketku yang ternyata sudah sobek di bagian tangan, leher dan belakang, kotor sekali. Wah, padahal baru dua kali aku menggunakannya. Oh, besoknya jaket itu kubuang. Hahaha...
Aku baik-baik saja. Biru di beberapa bagian tubuh dan luka di kakiku akan sembuh seiring berjalannya waktu. Tak mau lagi aku mengulang pengalaman yang sama. Merepotkan sekali.
Komentar
Posting Komentar