Postingan

Nanti di lain hari Nanti di lain bumi Saat sudah rela hati ini Kuceritakan jalan-jalan yang kutempuh sampai ku bisa relakanmu pergi   Penggalan lagu Bernadya berjudul "Sialnya, hidup harus tetap berjalan" sedang mode on repeat di-playlist ku. Ada sedih yang tak bisa kutangisi lagi, entah bagaimana. Aku saja kadang bingung bagaimana tubuh dan emosiku mengontrol semua rasa kehilangan yang seharusnya menjadi duka tak terkubur. Beberapa hari lalu ayah sahabatku berpulang. Hanya dua hari dirawat karena penyakit jantung, lalu dinyatakan meninggal. Aku yang menjadi salah satu teman yang mendengar pertama berita itu linglung seketika. Aku harus apa? Aku harus bagaimana? Dia menangis, "Bapakku udah pergi", katanya. Aku memeluknya. Lalu bergantian beberapa teman memeluk dan memberi support. Aku diam. Apa kabar setelah meninggalkan dunia, pak? Bagaimana perjalananmu? Purgatorium itu ada tidak? Sudah bertemu Tuhan? Banyak pertanyaan setelah Bapak tidak ada. Setelah lebih dari s...
Rasanya tidak adil tapi hal ini terus menari di kepalaku. Banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan begitu saja. Ingin sekali rasanya menjadi egois, jika boleh pertanyaan-pertanyaan ini akan kusampaikan tanpa merasa bersalah : Aku harus menunggumu sampai kapan? Melihatmu begitu-begitu saja, tidak ada perubahan, sampai kapan aku harus bersabar? Apa boleh aku memilih pergi saja, berpisah dan mencari jalan hidupku yang lain? Bukan tanpa alasan. Sudah kucoba bersabar dan memikirkan semua pengorbananmu dan kebaikanmu selama ini. Menurutku, kau adalah salah satu orang yang mampu menerima dan meng-handle gilaku yang kadang tak kusadari. Lebih sering hal itu menyakitimu, aku tau. Tapi aku mau bertahan sampai kapan? Ketidakjelasan ini sangat menyiksa! Rasanya aku berhak untuk kebebasanku, lalu aku selalu memikirkan, bagaimana kau? Tapi egoisku sering sekali berkata, hidupmu bukan tanggung jawabku. Itu adalah tanggung jawabmu. Tidak bisa kita saling ketergantungan. Mari saling hidup diatas kak...
 Mari mengingat banyak hal baik tentangmu saja Hari ini setelah lebih dari empat bulan, aku memutuskan memindahkan semua memori tentangmu ke media lain, harddisk-ku. Ternyata setiap aku melihat foto atau videomu hatiku masih tercabik-cabik tak karuan. Aku berusaha berbicara pada diriku sendiri tentang bagaimana kau sudah tenang dengan cara meninggalkan kami dan dunia ini, tapi gagal. Tetap saja tak bisa kubendung perihku dan airmata ini. Jadi aku memutuskan hal itu Mari mengingat banyak hal indah tentangmu. Tentang perjalanan hidup yang kau ajarkan padaku. Sampai bertemu lagi di semesta selanjutnya ya

Musim Kehilangan

Gambar
Kemarin aku berdiskusi dengan beberapa teman, "Iya ya, setelah beberapa tahun lalu musim menikah, sekarang sepertinya musim orang tua sakit dan pergi", kira-kira itulah bentuk diskusi kami. Aku sudah mendapatkan bagian turut berbelasungkawa dari banyak pihak. 20 November 2023 kemarin, ayahku berpulang. Lalu hari ini mamaku juga menyampaikan pesan singkat, ayah salah satu temanku juga berpulang. Begitu kira-kira. Beberapa waktu lalu aku pernah berpikir dan bergumam dalam hati, "Kenapa orang baik selalu lebih cepat berpulang ya?" Kesannya seakan orang jahat jalannya untuk berpulang lebih sulit dan lama. Tidak, bukan begitu maksudku. Aku sampai melanjutkan lagi, "Maunya bapak ini jangan terlalu baik sama orang lain, ntar berpulangnya cepat". Statement aneh berikutnya dariku. Lalu dia berpulang, cukup cepat untuk dia yang masih 56 tahun berziarah di dunia, cukup cepat untuk kami yang tidak bisa mengukir lebih panjang memori dengan dia. Tapi siapa kami yang me...
Aku menyerah pada takdir hidup dan perjalanan. Pada akhirnya apa yang kuharapkan, lagi-lagi, tidak mencapai titik terang versiku. Katanya mungkin aku diharapkan melihat dari sisi lain. Tapi lagi-lagi perenungan bertahun-tahun membuatku tak bergeming. Kali ini sudah kucurahkan, lagi, semua rasa semua hal semua perjuangan yang kupunya dengan maksimal walau aku tau mungkin tak akan berujung. Dan benar, setelah tahun-tahun perjuangan dan pengorbanan tetap saja hasilnya sama. Kemudian caraku mengikhlaskan semua seperti dulu harus lagi kukerahkan. Kubiarkan diriku mati untuk beberapa saat, mungkin kali ini akan lebih lama. Setelah itu, apa pun yang menjadi titik perjalanan berikutnya akan kugapai dengan sisa hati yang tak berbentuk lagi. Aku akan membangun benteng dengan pondasi lebih kuat. Melirik, mengamati lebih jelas sebelum bentengku ditembus lagi. Kali ini rasanya akan pelik, mengingat kehidupan punya tekanan sendiri pada bentengku. Aku sudah menyerah. Tidak punya kekuatan lagi. Sunggu...
 "Aku boleh menelponmu?", kettikku dilayar ponsel. Ingin kutekan tombol kirim lalu enggan kulakukan. Aku berbicara saja dalam hati, "Perasaanku sedang gusar, aku ingin mendengar suaramu, itu saja. Kau tak perlu bertanya alasannya, dengarkan saja", begitu kira-kira. Tapi belakangan ini kau sibuk. Sibuk dengan keperluanmu sendiri, sibuk dengan kepentinganmu sendiri, sibuk dengan hal yang tak boleh kuketahui sama sekali. Aku sampai bingung apakah aku boleh bertanya kau sedang apa, sedang dimana dan bersama siapa. Rasanya semuanya serba salah. Kau bahkan tidak bercerita apa pun tentang harimu ketika kutanya. Aku sampai membujuk diriku sendiri untuk tak lagi mau tau tentang dirimu dan kesibukanmu. Toh jika itu perlu untuk kuketahui, kau pasti bercerita, jika tidak maka hal itu akan kau simpan sendiri. Aku ingat kau pernah bilang, "Aku tak mau membicarakan hal yang tidak ada hasilnya. Nanti saja, jika sudah berhasil". Padahal aku senang mendengarkan cerita ngalo...
Sampai tiba dititik dimana tidak tau harus berharap apa pada siapa. Sampai tiba dititik bertanya ini semua untuk apa, untuk siapa, lalu apa. Sampai tiba dititik level tertinggi jenuh pada semua aspek kehidupan. Sampai tiba dititik dimana semua hal yang terjadi direspon dengan ya sudahlah. Hal baik, hal buruk, hal membingungkan direspon sama. Bahkan tiba dititik tidak tau apa arti bahagia dan bagaimana harus meresponnya. Apakah tertawa tapi hati merasa tak perlu, apa biasa saja tapi sekeliling menuntut sumringah. Sampai tiba dititik tidak ingin mengusahakan apa pun atau siapa pun. Bahkan tidak mengerti harus bersikap bagaimana disebuah situasi tertentu. Apakah harus bertanya dan membujuk, atau biarkan saja dan tidak peduli. Apakah harus sabar dan menunggu jawaban atau abaikan saja hingga jawaban datang dengan sendirinya. Sampai tiba dikejenuhan dimana semua mengandalkan diriku tapi aku tak tau mengandalkan siapa Sampai tiba dimana tangis yang sungguh hendak didengar tanpa pertanyaan ken...