Postingan

Namanya F...

May 2018. "So what do you think about us?", katanya. "What do you expect?", jawabku. "We're on the track to building something", katanya. Namanya Fernando. Seorang lelaki yang kuputuskan untuk kusukai setelah hampir dua tahun aku menutup hati. Bukan tidak ada pria sebelum dia. Tapi aku memilih tidak dengan mereka. Seperti belum siap, belum sembuh dari lukaku sebelumnya. Namanya Fernando. Seorang lelaki yang tidak pernah benar-benar berinteraksi denganku walau kami sudah mengenal lebih dari lima tahun waktu itu. Entah bagaimana awalnya, aku lupa. Yang kutau kami mulai sering bertukar kabar dan ada yang membuatku tertarik padanya, lagi, entah kenapa. Beberapa bulan menjadi terasa indah. Dia menjadi pria yang memperhatikan beberapa hal kecil yang menyenangkanku dan aku, secara sadar, menyukainya. Aku senang dan tidak percaya diri secara bersamaan. Dia memiliki mantan kekasih yang pintar, cantik, tinggi, pemalu yang sangat bertolak belakang dengan aku. Ins...
 Capeknya yaampun
 Tahun lalu, saat cinta pertamaku menikah dengan pasangannya, aku bahagia. Pasangannya menemaninya sekian lama dan mereka akhirnya berakhir bahagia di pelaminan. Tidak ada perasaan sedih padaku. Dia menjadi cinta pertamaku tiga belas tahun yang lalu. Aku tau aku bahagia untuknya, sempat mengukir cerita dan masa yang tetap baik untuk dikenang. Beberapa jam yang lalu aku mendengar kabar, bahwa dia, seseorang yang kukira cinta terakhirku akan menikah. Iya, hanya kukira. Karena takdir bilang bukan dia. Kami berpisah. Aku hendak mengatakan kami baik-baik saja. Tapi bukankah tidak ada yang baik-baik saja dengan perpisahan? Proses untuk menganggap dia tidak lagi jadi bagian hidupku terasa jauh lebih sulit. Tentu saja karena aku mengira aku akan berakhir bersamanya. Pikiran dan harapan yang terlalu jauh memang harus berani dikuasai sendiri, bukan? "Dia kan akan menikah tahun ini", satu kalimat dari temanku. Seketika semua cerita lama berputar, menyerap energi hingga titik habis. Tida...
Lelaki ini unik sekali. Dia pernah keliling Asia Tenggara, menghabiskan uang yang selama ini ia tabung untuk rencana pernikahannya dengan pasangannya. Yap! Dia menghabiskannya karena hubungan mereka tidak berhasil. Lalu dia memutuskan untuk sendiri, ini adalah tahun kelimanya. Bukan ia tidak mau membuka hati, hanya saja setelah perjalanan panjangnya itu ia menyadari bahwa pasangan dan pernikahan bukan lagi menjadi prioritas. Kini ia tinggal di negara sebelah, mancari peruntungan tentang uang, pengalaman dan cerita baru dalam hidup yang mungkin akan diceritakannya padaku dan aku akan dengan senang hati mendengarkan. Kami pernah menghabiskan malam sampai sangat larut. Melihat senja sambil jalan di sepanjang garis pantai sambil bercerita. Saat tiba-tiba kami saling diam, aku berceletuk, "Pasang lagu kali ya, biar seru". "Gak usah. Dengerin suara ombak aja", katanya, berujung aku memasukkan kembali ponselku ke dalam kantung celana, melanjutkan berjalan disampingnya. Dan...

Ajarkan aku - Arvian Dwi

 Kemarin seorang ibu dari temanku bilang pada kami, "Pintu hati jangan ditutup terlalu rapat. Sudah mulai bisa dibuka sedikit, beri ruang untuk seseorang masuk, hadir". Aku hanya tersenyum mendengarnya. Hari ini aku mendengar lagu yang mengingatkanku pada kalimat ibu temanku itu. Ajarkan aku - Arvian Dwi, liriknya begini... Ajarkan aku cara tuk melupakanmu Bila membencimu tak pernah cukup 'tuk hilangkan kamu Ajarkan aku, sebelum merusak kedalam-dalamnya Sebelum aku trauma mencintai sosok yang baru lagi Lalu aku bertanya pada diriku, apakah karena luka lima tahun lalu aku begini? Ya rasanya sulit sekali. Bukan tidak mau, tapi hasrat untuk memulai dan membuka hati itu belum ada.
Sayangnya aku benar-benar membawa diriku ke dalam hidupmu. Untuk keegoisanku tidak ingin memikirkannya, aku tidak bisa. Aku yang memilih untuk terlibat. Jika kini pundakmu berat, kau harus tau bahwa aku pun ikut memikulnya. Bukankah langkah hari ini menentukan aku dan kau yang kau sebut kita untuk hari depan? Jika kau membatasi dirimu agar aku tak terlibat Aku bisa apa? Aku hanya ingin kau tau aku selalu ada hehehe... Tentang ketidaksukaanku Kau benar, itu urusanku Aku tak seharusnya menambah bebanmu dengan bercerita tentang ketidaksukaanku Begitu bukan? Ah ya, Aku sungguh tidak peduli dengan masa lalumu Sungguh... Aku tau banyak hal yang akan berjalan tidak sesuai inginku Karena aku selalu ingin apa yang kumau Bukan melihat dari sisi lain Aku akan menahan diriku Aku lamban belajar tapi aku pasti bisa Sudah ya... Mari berdiam dalam kelelahanmu Dan kemuakanku yang akan kuatasi sendiri

Online Counseling, Why Not?

Aku merasa memerlukannya. Lalu aku mencari tau dan kutemukan beberapa sumber. Wah, ada yang gratis. Satu peluang baik untuk percobaan pertama. Aku melihat daftar yang diberikan dan membaca profil singkat mereka. Aku mencari tau jadwal yang berhubungan dengan kebutuhanku. Aku menemukannya. Awalnya aku berpikir sesama jenis akan menjadi hal yang baik karena mungkin bisa langsung mengerti. Tapi setelah membaca profil mereka, aku menjatuhkan pilihanku pada seorang lawan jenis. Dan ternyata prosesnya tidak segampang yang kubayangkan. Masuk, pilih, lalu mulai sesi. Yang berminat pada sesi mereka yang gratis ternyata banyak sekali. Aku butuh dua minggu untuk berlomba mendapatkan satu sesi gratis dari dia yang sudah kupilih untukku dari awal. Akhirnya aku masuk ke sistem mereka, mulai memilih jadwal dan memilih orang tepat di jam yang sudah ditentukan. Dapat. Jadwal konsultasiku dengan seorang dokter psikolog adalah hari Jumat pukul 19.00 s.d 20.00 secara daring via sistem yang mereka punya. A...