Postingan

Sebuah ucapan

Akhir Agustus lalu aku ingat dia berulang tahun Tidak kuucapkan padanya Tapi kuucapkan dalam hatiku saja Aku membuka percakapan kami di salah satu media sosial Oh, tahun lalu aku masih mengucapkannya Seperti biasa, dia membalasnya sehari setelah aku mengucapkan Ucapan "terima kasih" Natal tahun ini, aku juga tidak mengucapkannya, tahun lalu juga tidak Bukan tidak ingat Rasanya sudah enggan, sudah tidak layak saja Tapi selang sehari setelah natal Sebuah pesan masuk ke ponselku, "mamak nanya kabarmu. Sehatnya kau? Uda kubilang sih sehat" Aku terhenyak beberapa waktu. Akhirnya kubalas menyatakan sehat dan menyampaikan selamat natalku Kubuka kembali percakapan kami Ya, Terakhir, 26 agustus 2018 Inong surbakti, masih nama yang sama Tidak kuganti

The Rain - Ujung Pertemuan

...  Jika inilah akhir cerita kita Tak perlu khawatir kan aku Bila kau bahagia Aku pun bahagia Judul lagu ini beberapa kali muncul di halaman muka youtube ku. Tidak pernah kudengarkan entah karena apa. Video lagu ini baru saja diunggah tanggal enam november lalu. Lalu sore ini kudengarkan sambil tetap mengerjakan pekerjaan kantorku. Tapi beberapa lirik membuatku berhenti bekerja dan mendengar dengan seksama liriknya. Bagus sekali. The Rain tidak pernah mengecewakan. Selalu langsung menggores luka hati lama. Entah bagaimana mereka melakukannya. Kalimat yang sejak dulu tidak kumengerti ada dilirik lagu mereka. Bila kau bahagia.  Aku pun bahagia Bagaimana bahagia jika subjek penghasil kebahagiaan itu kini bahagia bersama yang lain? Lalu aku merasakannya. Belajar merela dan menerima hingga sampai tahta tertinggi, aku bahagia dengan kebahagiaan dia yang dulu pernah singgah dan memupuk harapan besar namun kini sudah bersama yang lain. Saat berpisah dulu, hal ...

bercakap

Halo, apa kabar? Rasanya sudah lama kita tidak bercerita ya. Ada apa? Rasanya banyak yang disembunyikan. Menjadi dewasa memang menyebalkan, aku tau. Tapi kan seru, adrenalin payah dalam diri dipaksa bergejolak. Hahahaha... Kenapa sekarang lebih senang sendiri? Jangan terlalu menikmatinya, ah ! Bukan dirimu sekali ! Tidak baik, tau ! Aku tau kau sudah banyak dikecewakan, sudah kubilang jangan banyak berharap pada orang lain. Kau memang bilang kau bisa melakukannya, tapi hatimu tetap saja bertolak belakang. See? Bagian ini saja kau masih bertengkar dengan diri sendiri, bagaimana kau ini? Tahun ini akan selesai. Katanya kemarin kau sempat menilik ke belakang dan menyesal. Tidak apa dan tidak usah berlarut. Kalau memang Yang Diatas memberi kesempatan, kau bisa memperbaikinya tahun depan. Bagaimana? Membacalah lebih banyak lagi. Olahraga lebih sering lagi. Makan sehat ga boleh lupa. Bodo amatnya dikurangin dong. Sudah ya. Nanti kita bercakap lagi.

pagi ini

Pagi ini menjadi pagi yang sangat menyebalkan. Aku mengingat hal menyebalkan yang dilakukan adikku tadi malam sebelum tidur. Kebiasaanku, kalau kekesalanku tidak kulampiaskan dengan marah, aku akan menangis. Tapi akhir-akhir ini aku belajar untuk memendam, berharap luruh bersama malam. Tapi ternyata tidak. Pagi ini, aku sampai berujar dalam hatiku, "anggap aja adikmu tidak ada, dari pada kau harus marah". Dan kulakukan. Oh, pacarku kena imbasnya. Rasanya aku cuek sekali tadi malam. Dan pagi ini aku tidak mengiriminya pesan apa pun. Kondisi hatiku masih tidak baik. Aku hampir terlambat untuk bertemu seseorang. Saat terburu-buru sifat teledorku meningkat seratus kali lipat. Waktu merapikan rambut, antingku jatuh, entah kemana, aku kesal pada diriku sendiri. Lalu kucoba cara jitu untuk menenangkanku, berbicara pada diri sendiri, "tenang, pelan-pelan carinya, ada kok, coba lihat lagi pelan-pelan". Ya aku bergumam sendiri, ketemu. Sebelum meninggalkan ru...

Pamungkas - Monolog

Alasan masih bersama Bukan karena terlanjur lama Tapi rasanya yang masih sama Seperti sejak pertama jumpa ... Aku mendengar lagu ini kembali ketika seorang teman membagikan lagu ini di media sosialnya. Kemudian secara acak, aku mengingat cerita seorang teman beberapa waktu lalu. Dia sedang mendekati seorang gadis. Gadis itu tidak menolak untuk didekati. Penilaianku begitu.  Tapi aku tau tipe temanku ini. Bukan lelaki yang memborbardir perempuan dengan perhatian dan menunjukkan bahwa ia mencoba mengejar perempuan itu. Lalu kutanya, "sejauh ini uda gimana?" Setelah menjelaskan sedikit yang membuat aku mengambil kesimpulan bahwa perempuan itu tidak menolak didekati, dia berkata, "terakhir aku suka pacarku sebelumnya, dia selalu ada dipikiranku. Tapi ini ga" Cerita lain lagi, seorang perempuan menjalin sebuah hubungan dengan lelaki. Hampir empat tahun. Lalu berpisah. Kutanya kenapa begitu  kekeuh  mempertahankan? Dia bilang, "Kau tau bagaimana rasanya se...

Perasa

Melatih diri untuk menjadi perasa, kembali, ternyata adalah sesuatu yang sulit Aku kemudian merasa menyesal kenapa dulu sekuat itu berusaha menjadi tidak perasa Mengandalkan logika lebih banyak ketimbang perasaan Sekarang terasa jahat Tidak memperhatikan perasaan orang lain bahkan perasaan diri sendiri Membiarkan orang merasakan senang atau sedih kemudian diri sendiri tidak bergeming karena tidak merasakan apa pun Lalu ada yang mencoba menilik rasa dalam hati Sepertinya beliau berusaha Dan aku membalas rasa, kucoba dan sulit Sekarang aku ingin menjadi perasa, kembali, supaya aku tau banyak hal manis yang diucapkan dan dilakukan memang berdasarkan hati dan memang hendak menyentuh hati Mengurangi kadar logika supaya perasaan punya andil lebih besar Mungkin berbuah baik

Kemarin, Hari Ini dan Selamanya

Aku meninggalkan negara ini. Bermodalkan paspor dan keinginan memulai semuanya dari awal. Aku membiarkan ragaku dibawa kapal terombang-ambing di lautan lepas. Entah sudah berapa lama. Kemudian aku tau bahwa aku melewati Terusan Suez, berbelok sampai ke Benua Eropa. Orang-orang disini tidak seramah yang dipikirkan. Aku harus punya sesuatu yang membuatku bisa bertahan. Mengerjakan semua jenis pekerjaan demi bisa menyewa flat kecil berisi kasur lipat tidak empuk tempat meletakkan lelah melewati hari. Toh, aku bisa bertahan. Lima tahun pertama aku mendengar kau menikah. Aku patah untuk yang kesekian kalinya. Aku tersenyum bahagia sebenarnya. Kemudian aku melewati beberapa minggu merutuki tuhan yang menuliskan takdir yang salah dalam hidupku. Sekarang apa lagi yang membuatku bertahan jika satu-satunya pertahananku sudah menyerahkan hatinya terpenjara oleh orang yang tidak pernah kutau sama sekali? Sepuluh tahun, orang tuaku menyusulku kesini. Tidak kubiarkan mereka tinggal di flat tua...