Postingan

Kau, Masa Lalu Priaku yang BELUM Selesai

Sebelum aku memutuskan menulis ini, aku mencoba untuk menjadi dirimu. Maksudku ada di posisimu jika seorang perempuan menyampaikan ini padamu. Aku tidak mendapatkan gambaran. Aku benar-benar tidak mengenalmu. Hanya tau namamu dan sedikit cerita tentang kau dan dia. Karena aku tidak peduli, awalnya. Dan seharusnya selalu begitu. Tapi keadaan mengubahnya. Mungkin kau tau maksudku. Ya, aku bersama priamu, sekarang. Aku, entah dipilih atau memilih, sedang mencoba menciptakan dan menjalani apa yang pernah kalian lewati dulu, dengan cara kami berdua. Sesuatu mengusikku belakangan ini. Kau dan dia, kalian, masih menjalin komunikasi. Tidak salah, tapi kurang pantas. Maksudku ini bukan tentang dia saja, ini tentang kau. Kau dan priaku punya satu kesamaan, saling menginginkan tanpa pernah lagi bisa bersama. Kau cukup tau alasannya. Dan kalian saling menyadarinya. Aku yang masih menjadi bayang-bayang diantara kalian sedang berkecamuk dengan pikiran sendiri, apa aku harus menyerah pada kami...

Fase Asmara, katamu? Ah, tidak

Melewati fase asmara adalah hal yang menyenangkan. Diselingi dengan sakit hati, lalu menemukan tambatan hati kembali menjadi hal lumrah. Paling tidak, sampai pertengahan usia dua puluhan... Mengambil langkah besar untuk sebuah fase kehidupan selanjutnya yang disebut pernikahan adalah hal yang berani, dan hebat. Tidak semua orang siap untuk hal itu di pertengahan usia dua puluhan, atau lebih. Aku sudah melewati fase asmara dan bosan. Aku sedang tiba pada fase mati rasa. Bukan berarti aku tidak membuka hati untuk sebuah hubungan dengan lawan jenis. Hanya saja, kali ini belum ada yang mampu menembus batasan perasaan manusiawiku yang hendak diubah jadi cinta. Belum ada. Beberapa yang sempat singgah, kubiarkan coba masuk untuk kemudian kuusir. Kesannya memang kasar. Tapi bukankah lebih baik begitu daripada kutahan lebih lama untuk kemudian menjadi sakit untuk dia. Mencoba, tidak cocok, kuusir. Lalu di satu waktu, aku berhenti pada satu hati. Yang mengusahakan aku dan kusambut ...

Caraku Mengikhlaskan "nya"

Halo, Kemarin kita pernah bertemu di CGV GI, ku kira kau tidak akan peduli siapa aku. Tapi karna beberapa hari lalu aku menemukan kau melihat insta story ku, aku jadi berpikir mengirimimu ini. Aku menulis ini sudah lama sekali, sebelum aku lupa tentang hal-hal ini. Berharap suatu saat aku mengirimnya pada seseorang, dan sepertinya kau orangnya. Aku, Seorang gadis yang menghabiskan waktu lebih dari tiga tahun untuk mendampingi priamu sebelum akhirnya meninggalkanku dan memilihmu. Tidak, aku tidak berniat mencampuri hubungan kalian atau bahkan merebutnya darimu. Aku sudah ikhlas jika dia memilih yang lain. Aku tau, tidak ada jalan lagi untuk kami. Ah ya, Dia suka sepak bola, kau pasti sudah tau. Jadi jika malam minggunya diisi dengan futsal, kau jangan marah, kau juga sudah pernah diajak ketempat dia bermain futsal, bukan? Tapi diawal hubungan kalian, dia pasti akan lebih memilihmu dibanding futsal, semoga seterusnya begitu. Dia suka jus alpukat. Jika dia bilang "...

Tentang Pernikahan

Sudah menjelang usia menerima banyak pertanyaan "kapan"? Sudah mulai muak? Atau sudah tahap pasrah? Tidak! Aku tidak akan menggurui Apalah aku Pernikahan itu sesuatu yang manis, bahagia, berat, butuh mental baja Itu bukan aku yang bilang Hanya saja, gambarannya mungkin seperti itu Dariku... Pernikahan itu menakutkan Coba bayangkan kau hidup dengan hanya satu orang sebagai pasanganmu dan menghabiskan waktu seumur hidupmu dengannya. Well, why? Nothing. Feel like horrible (if she/he is the wrong choice) Tapi beberapa cerita memang menjadikannya menakutkan Seorang suami meninggalkan istri dan anak-anaknya hanya karena ia dipaksa Ibunya memiliki anak laki-laki dengan cara menikahi wanita lain. Sang suami melakukannya. Dude, it's 20th century and A SON ? seriously? Kemarin seorang perempuan ditinggal oleh lelakinya, beberapa hari setelah mereka menyebar undangan pernikahan. Mereka hidup sebagai pasangan yang saling melukai. Luka fisik dan batin dan... s...

HAMBAR

Aku tidak meminta ada di posisi ini Bahkan aku tidak pernah membayangkan bisa ada di titik ini Maksudku, aku sudah berusaha menepis, tapi aku dipaksa menerima, aku memang ada disini, sekarang Mengerang hal yang tidak kumengerti Seakan logika dan perasaan mati seketika Entah kapan bisa bernyawa lagi, jangan sampai tidak ! Aku akan merutuki diriku jika ini berlangsung lebih lama lagi Ternyata ini yang terjadi setelah sekuat tenaga aku berusaha mempelajari laku ikhlas Ia membuang rasa yang seharusnya masih bisa tinggal Ia membawa serta rasa sakit dan rasa rindu, mungkin juga rasa cinta sekaligus Lalu, tidak ada yang tersisa Maka ketika pintu diketuk Ruang yang kusediakan sudah tersedia Hambar tersingkap Ia yang datang dan berlalu, ah ya, begitu saja Perlu dia yang tidak lelah berusaha harus hingga muak Ini perintah !

Sekar dan Polisi yang Ditolak Pinangannya

Namanya Sekar. Ah ya, nama Indonesia sekali bukan? Artinya Bunga, dari bahasa Jawa. Beberapa bulan lalu ia dipinang oleh seorang polisi, tapi ia menolak. "Kenapa?", tanya teman sepermainannya. "Dia belum siap menikah", jawab Sekar. "Bagaimana kau tau?", temannya penasaran. "Jam tangannya masih di kredit", Sekar masih sibuk dengan kain strimin dan sulaman bunga di tangannya. "Hanya karena itu?", masih dengan wajah penasaran. "Katanya dia ingin punya mobil, tapi masih punya utang dimana-mana", lanjut Sekar. "Kemarin dia meminjam uang padaku, tak kuberikan, ini bukan kali pertama dia meminjamiku", Sekar mulai bercerita panjang lebar. Ah, kesempatan baik menggali informasi,  kata temannya dalam hati. "Lalu?", lanjut temannya. Ia tahu bahwa ketika Sekar sedang fokus pada sesuatu dan ditanyai hal lain, dia pasti akan menceritakan semuanya, tidak ditutup-tutupi. "Katanya dia sudah punya rumah. T...

menyambut orang lain untuk tinggal tidak lagi sekadar singgah?

Aku punya banyak sekali kesempatan, denganmu. Entah kau yang membukanya atau aku sendiri. Kita bertualang, tanpa ku tau bagaimana prosesmu. Lalu aku ingin menepi, berlabuh dan tidak pergi lagi, padamu. Aku membuka kesempatan itu. Lagi, aku melakukan banyak cara untuk mendapatkanmu seutuhnya Cara lama yang tetap tak bekerja dengan baik. Aku ingin mengaku, tentang inginku menepi dan tak berlayar lagi. Lalu aku menanyaimu Dan jawabanmu, kau tidak percaya. Seketika aku menunduk Bergetar karena jawabanmu memaksaku berlayar lagi. Kau bahkan tidak menahanku ketika aku ingin pergi. Ya, aku berlayar lagi. Sekarang aku berada di tengah samudera Kedinginan Inginku berlari secepat mungkin untuk marah padamu, menangis, memaki, lalu memelukmu Kau jahat ! Kini kemana aku hendak berlabuh? Aku kosong Jika aku kembali, adakah kesempatan lagi? Atau... Aku harus sudah melihatmu menyambut orang lain untuk tinggal tidak lagi sekadar singgah?