Postingan

Ada jenis lelaki yang lain?

Sudah kodratnya begitu Wanita ada untuk dicinta Juga kodrat, Bahwa lelaki harus lebih berusaha untuk mengejar cinta Tetapi lelaki terlahir dengan jenis yang berbeda Begitu pun wanita Ada lelaki yang berjuang-sulit-berhenti Ada lelaki yang berjuang-sulit-sulit-sulit-berhasil Ada lelaki yang berjuang-mudah-berhenti Aku menemukan lelaki yang benar-benar berusaha mengejar cinta Penuh pengorbanan Menempuh jarak dan menebar tawa renyah Dan, ia mendapatkan wanitanya Wanita itu Yaa... Mungkin kodrat wanita juga yang akan luluh dengan lelaki yang tampaknya sepenuh hati berjuang untuk cinta yang ia punya Lalu, ia menerima lelakinya Tapi cerita tidak berakhir Melainkan baru saja dimulai Lelaki itu berubah, pelan-pelan tawa renyahnya hilang, berganti dengan senyum simpul yang tidak setiap bertemu didapatkan Tidak ada lagi bunyi hp yang mengingtkan ini-itu seperti saat pendekatan dulu Mendapat ucapan 'selamat pagi' saja sudah seperti kebahagiaan sepanjang hari Enta...

Jangan ditiru !

Aku lupa cara mengasihi Karena benci dan cemburu membara lebih besar daripada kasih Kemudian aku harus bertempur dengan diriku sendiri, tanpa hasil Lalu pada akhirnya aku mengasihani diriku sendiri Dan tersenyum bodoh karena memelihara benci dan tidak mampu berdamai dengan hati

Dasar Anak SMP!

Tau ga kapan aku benar-benar suka sama band Ungu? Dari SMP ! Honestly dari SD aku uda suka dengar lagunya, tapi ga begitu kenal sama personilnya. Nah, awal bisa cinta banget sama Ungu waktu kelas 2 SMP. Waktu itu ada kelas ekstrakurikuler yang membuatku harus berada di sekolah hari Sabtu sore. Sebelum kejadian di Sabtu sore itu, aku menyukai kakak kelas ku, Harry namanya. Karena aku memang anak perempuan yang terlalu aktif, aku tidak malu untuk mencari tahu no hp nya dan mengirim pesan duluan padanya. Alhasil, tau lah dia bahwa aku menyukainya. Jadi, setiap istirahat sekolah, aku selalu jalan dari depan kelasnya karena aku tau dia sering nongkrong di depan kelas bersama teman-temannya. Lalu aku akan curi pandang padanya, dan tersenyum. Entah karena dia melihat atau tidak melihat sama-sekali. Sampai di sabtu sore itu, aku sedang berkirim pesan dengannya. Seperti biasa, walaupun di kelas ekstrakurikuler, dia tetap nongkrong di depan kelasnya yang tertutup. Dia sudah menyelesaika...

Rinduku yang Salah

Tapi jarak terlalu jahat. Ia tidak mengenal waktu untuk menumbuhkan rindu sedemikian cepat. Lelakiku sedang tertarik pada wanita lain. Dia banyak menghabiskan waktu dengan perempuannya itu tanpa memedulikanku, atau bahkan sudah tidak menganggapku lagi. Lalu tiba-tiba saja rindu padamu kembali membuncah. Hahaha... Kasihan sekali kau, hanya menjadi tempat perinduanku ketika lelakiku tidak berkata apa pun padaku saat ia menghabiskan malam minggunya dengan perempuan lain. *100*12# Kode salah satu kartu telepon selular untuk membuat paket nelpon murah. Dan aktif. Aku membuka kontakmu dan dengan satu kali scroll , aku menemukan namamu. Tut... Tut... Tut... " Halo", suara beratmu menyahut. Sudah berapa batang? batinku. "Kenapa lama sekali kau angkat?" "Aku baru saja selesai apel malam" "Capek?" "Lumayan. Ada apa?" "Tidak ada. Hanya ingin berbicara." "Kau rindu?" Hening ... " Kau kenapa? " "...

Sisa Kecupan Tadi Malam

Ini bukan tentang birahi. Ini tentang sebuah batin yang ditempelkan dalam tubuh seorang insan. Menjadi sebuah pelukan mesra saat aroma menguar dari pangkal lehernya di sore itu. Merindu, begitu. Namun enggan untuk diutarakan. Hanya mencoba membalas belasan ucap dengan sekadar senyum atau sebaris kalimat. Lalu... Ah, waktu tidak lagi mampu bercengkrama dengan kisah tak bertuan mereka. "Aku harus pulang. Keningmu saja." Sebuah kecupan. Tidak lebih dari tiga detik. Bahkan ketika mata hendak mengatup dan mencoba merasuki sendiri pada aliran darah terendah, kecupan itu menghilang. "Hati-hati." Sekali lagi, ini bukan tentang birahi. Lebih kepada rasa yang dititipkan oleh Yang Kuasa namun sering sekali disangkal. "Maaf, lancang" Sebuah pesan singkat. "Sudah larut, tidurlah."

Si Penguasa Jalanan Jakarta [1]

Asap kendaraan bukan lagi menjadi hal yang mengusikmu, tapi menjadi candu. Ditemani terik matahari yang kadang tiba-tiba saja menjadi awan hitam, hujan deras dan halilintar. Lagi, tidak apa. Mereka sudah menjadi candu. Dengan sepeda onthel tua, sudah berkarat, tapi masih kuat, kau kayuh saja, menelusuri jalan raya ditemani mobil mewah dari si orang kaya. Rantai yang berulang kali kau lapisi oli hitam berhasil membantumu mengalahkan jalanan yang sebenarnya tidak menerima pijakanmu lagi. Dua kantung kain besar di sebelah kanan dan kiri bagian belakang onthelmu juga sudah lusuh, coklat karena debu. Ada penutup kantung berwarna senada yang awalnya memiliki kancing tapi kini hanya teronggok lemah menutup barang di dalam kantung itu. Kau? Mulai tua dan keriput, tidak ada lagi otot yang dahulu membuatmu gagah. Warna kulitmu yang coklat kini menjadi hitam legam. Dengan topi bundar dan kemeja batik kebanggaanmu, kau masih menantang Jakarta. Seperti hari-hari sebelumnya ... Sudah jam 4 pa...

Penantian-kah? Kesetiaan-kah?

Tidak akan ada penantian yang bisa dijanjikan Hanya saja jika jalannya memang begitu Akan ada aliran yang membawanya pada muara Dan jika jalannya berbeda Mungkin akan ada pintu lain yang lebih lebar terbuka yang bisa dimasuki untuk sekadar singgah atau untuk tinggal Bukan tentang kesetiaan yang sedang diuji Hanya saja ketidak-pastian menumbuhkan ruang ragu tanpa arah Jangan salahkan jika ternyata pintu yang ditunggu sudah ditutup Dan jangan ragu masuk jika pintu yang ditunggu masih terbuka