Postingan

Kerinduan di Akhir Senja [5]

Aku memutuskannya. Setelah 11 bulan kami bersama. Banyak canda tawa kesedihan dan tangisan yang sudah kami lewati bersama. Banyak kisah yang mungkin tidak akan kulupakan dan kini hanya jadi kenangan. Salah satu yang paling berkesan adalah, saat dia, tepat jam 6 pagi sudah berdiri di depan gerbang rumah sambil membawa nasi goreng hasil masakannya sendiri. Aku sangat terkejut dan tak mau mama melihatnya. Aku langsung menyuruhnya pergi ke persimpangan rumah setelah menemuinya dan menerima nasi goreng itu. Aku berjanji akan menemuinya di persimpangan rumah secepatnya dan pergi ke sekolah bersama. Nasi gorengnya, enak. Kebiasaan lain yang kami lakukan adalah selalu bercerita menghabiskan malam hingga waktunya tidur, ya kami selalu teleponan tepat jam 9 malam hingga waktunya tidur. Namun aku memutuskannya. Aku memutuskannya karena setelah beberapa bulan, mulai ada rasa tidak nyaman dalam hatiku padanya. Dia mulai "overprotective" padaku. Bayangkan saja, kemana pun aku pergi, bersa...

Just be a rockstar 'till the end, mom :D

Gambar
Jarak ini menyadarkanku tentang kehilangan. Kehilangan omelannya setiap pagi, kehilangan wangi dan rasa masakannya setiap hari, kehilangan uang jajan sekian ribu yang selalu diberikannya, kehilangan kata-kata "makan dimana kita?" setiap aku atau adik meraih suatu kesuksesan, dan kehilangan-kehilangan lainnya. Semakin kesini, rasanya diri sendiri sudah bisa mengatur semuanya sendiri. Warna sprei yang akan digunakan, susunan baju di lemari, rak sepatu yang harus diletakkan dimana, akan makan apa untuk pagi, siang dan malam. Tapi, ternyata dibalik kemandirian yang sudah tertanam, ada satu sosok yang menjadi pemeran utama. IBU Ibuku bukan tipe orang yang romantis. Bukan tipe ibu yang mau mencium atau memeluk anaknya ketika sudah lama tidak bertemu, bukan tipe ibu yang suka memanjakan anaknya dengan makanan atau barang mewah. Mungkin akan terasa asing jika aku mengatakan "I love you, mom". Ya, rasanya ibuku tidak benar-benar butuh kata-kata itu. Aku tau, saat aku m...

Masa Penantian. Apa yang sudah kau persiapkan?

Hai, Desember ... Kita bertemu lagi, sudah lama yaa ... terakhir berpapasan denganmu, 12 bulan lalu Pagi ini aku teringat khotbah dari pendeta saat ibadah advent pertama, kemarin... Seperti biasa, inti dari khotbah itu pasti tentang bagaimana menyikapi penantian akan kedatangan Tuhan. Setelah membaca firman Tuhan dan membuka khotbahnya, aku merasa semakin tertarik ketika beliau bercerita bagaimana banyak orang menyiapkan natal dengan mewah; berlomba untuk membuat pohon natal termegah, menghiasi setiap toko dengan lampu kelap-kelip dan nuansa merah, munculnya penjual pernak-pernik natal di sepanjang pasar, toko dan mall. Di rumah-rumah sendiri, keluarga mulai sibuk membongkar kardus yang berisi pernak-pernik natal yang selama 11 bulan bertengger manis didalam gudang. Mulai merangkai daun-daun plastik hijau menjadikannya pohon natal dengan sentuhan miniatur lonceng, sepatu santa, bola warna-wani yang akan digantung dipohon natal, dan itu akan menjadi sempurna ketika lampu warna-wa...

Aku rindu hujan

Aku rindu hujan. Hujan diantara rumput hijau dan danau biru. Aku rindu pelangi sehabis hujan. Yang mengembalikan burung-burung putih untuk mengelilingi semak setinggi aku. Yang membawa pulang burung-burung putih untuk menutup hari di sarang. Yang membuatku tersenyum karena khayalan pada pangeran danauku sedang menari lincah. Aku rindu hujan. Yang sekarang menyadarkan aku bahwa ia sangat indah. Yang ternyata benar-benar menggoyahkan perasaan untuk berkecamuk akan kerinduan pada seseorang yang beratus bahkan beribu mil jauhnya dari aku. Aku rindu hujan. Yang kadang menyatukan kami dalam diam. Yang sebenarnya membuat rasa manja terpupuk dan berkembang tanpa bisa dihentikan. Hujan... Yang kadang membuat sayap burung putih basah namun tak menggigil. Yang kadang membuat hati termenung dan menciptakan sebentuk senyum.

Kerinduan di Akhir Senja [4]

"Dia hubungi Intan lagi kak. Kakak kan tau gimana kerasnya Intan mau melupakan rasa bersalah Intan. Intan ga mau liat dia nangis kayak kemaren lagi" "Tapi sekarang malah kamu yang nangis", kata Arif menimpali. Intan sudah mulai mau bercerita setelah ia terlihat tenang. "Ya biarin aja. Aku jahat tau kak. Aku ga pernah liat cowok nangis demi ceweknya. Dia lakuin itu supaya ga pisah sama Intan. Dia tulus. Intan aja yang bego. Kayak mudah aja melepas dan mengubur semua ketulusan hati dia." "Mulai deh dramanya", Arif melengos. Jika ia membiarkan Intan meneruskan ceritanya, pasti satu malam itu Intan akan mengulang semua kenangan-nya bersama pria yang membuatnya menangis itu. "Yauda gini aja. Yuk ikut aku", Arif menarik tangan Intan ke kamarnya, "Foto ini, simpan ditempat yang ga bakal kamu liat lagi, atau kalau perlu, buang", Arif mengambil foto Intan dan pria-nya itu yang masi bertengger manis di meja belajar Intan. "Gima...

Pergilah, Ma..

Kecelakaan itu membuat dia yang sangat kusayangi, koma, tidak sadar, Mama. Aku tidak tau seperti apa yang dirasakan mama saat itu. Ia duduk dikursi paling ujung angkutan umum itu dan kereta api itu secara cepat melaju dan menabrak angkutan umum yang dinaiki mama, tepat menghantam bagian belakang angkutan umum itu. Aku? Shock, takut, sedih, kecewa, semua bercampur menjadi satu. Aku tidak bisa secepat kilat terbang menyebrangi pulau Jawa untuk sampai diujung pulau Sumatra sana. Bidadari kecil dan pangeran kecilku hanya bisa menangis disebrang telepon sana. Aku tidak bisa menahan semuanya, aku tidak bisa menangis. Aku tidak mungkin semakin menghancurkan harapan bidadari dan pangeran kecilku, adik-adikku, dengan tangisanku juga. Keluargaku yang lain menjadi perpanjangan tanganku untuk merawat mama dan menenangkan adik-adikku. Aku hanya bisa mengandalkan doaku. Berhari-hari keadaan mama naik turun. Kadang sudah mulai normal dan kadang down kembali. Mama belum sadar. Tidak lagi dapat ...

08November2015

Papaku katolik. Mamaku protestan. Dan pernikahan menyatukan mereka dalam katolik. Oppungku bahkan sangat bangga pada mama-ku karena ia bisa mencintai katolik dan mewujud-nyatakannya dengan melakukan pelayanan di gereja katolik. Aku sulung dari 3 bersaudara. Kami lahir dalam keluarga katolik. Keluargaku bukan pendoa yang sangat patuh, kuakui. Namun sejak kecil orangtuaku mendidik kami dengan sungguh dalam kekatolikan. Aku dan adikku misalnya, selalu punya rasa bangga tersendiri saat bisa menjadi putra-putri altar, pemazmur atau lektor. Nah, diusiaku yang sudah memasuki angka 20-an ini, perlahan namun pasti aku semakin mencintai ke-katolik-an ku. Semalam, 08 November 2015, aku mengikuti ibadah di gereja Katolik St.Yohanes Penginjil Paroki Blok B, Jakarta Selatan. Hari ini para uskup seindonesia berkumpul dan melakukan jamuan misa di gereja itu. Aku datang terlambat, hanya karena kendaraan umum dari kosanku ke gereja lama datang. Saat aku datang, sudah bacaan pertama. Akhirnya a...