Baru saja aku mau memulai lagi. Memupuk harapan-harapan kecil hingga besar dalam diriku pada orang lain. Aku bahkan hampir lupa bahwa manusia sumber kecewa. Hingga kecewa bukan kata yang kuselipkan dalam harapan-harapan itu. Lalu semua berjalan. Tentu dengan baik awalnya. Sering mengabari dengan "Aku berangkat ya" "Aku sudah sampai ya" "Aku kesana ya sama si A" "Aku uda sampe ya" "Kami disini bertiga" -lalu dikirimkan video tanpa kuminta. Awalnya begitu. Tentu saja temanku sudah memperingati, "Biasanya itu. Beberapa bulan pertama" Lalu, aku acuh karena terlalu senang diperlakukan begitu. Pelan-pelan perubahan mulai muncul. Mulai dari masalah yang seharusnya tidak besar berakhir tak diselesaikan juga sampai empat hari lebih. Sampai pada tidak mengabari kalau sudah sampai atau sedang bersama siapa. Mungkin setelah beberapa bulan hal itu tidak lagi menjadi penting. Sayangnya, kecewa itu muncul saat hatiku tidak siap. Kemarin-kema...
Postingan
Menampilkan postingan dari 2026